Bloatware Yang Menghantui Sistem Operasi

Halo, kali ini kita akan menyinggung bloatware, yang menurut hemat Author merupakan sebuah aplikasi bawaan entah dari pabrikan atau pengembang yang sebenarnya bertujuan untuk memudahkan pengguna, namun berakhir menyusahkan pengguna, entah itu dari segi hardware, maupun software.

Tahukah kalian bahwa kebanyakan bloatware dapat kalian temukan pada sistem operasi Windows dan hampir semua smartphone yang beredar di Indonesia? Percaya gak percaya, kalian harus menerima kenyataan pahit ini.

Sayangnya, Author memastikan hampir 95% akan abai dengan hal sepele namun memiliki efek samping yang cukup berasa untuk kalangan yang kurang berada. Yuk, kita senggol semuanya di tulisan kali ini!

Bloatware Di Komputer Dan Laptop

Contoh Bloatware Windows 10

Windows 10 yang saat ini banyak digunakan orang juga memiliki segudang bloatware, atau aplikasi sampah yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pengguna. Software atau fitur tersebut, sebenarnya memiliki fungsi, namun pada dasarnya terlalu niche untuk digunakan oleh average user.

Contohnya seperti aplikasi atau games tertentu yang secara default tersedia ketika kita baru pertama kali menggunakan, atau melakukan instalasi Windows 10. Penempatan bloatware ini sebenarnya sangat tidak etis untuk dilakukan, terlebih seperti yang dilakukan oleh Microsoft pada Windows 10.

Di third-world country seperti Indonesia, lisensi Windows 10 yang benar-benar original tidaklah semurah nasi padang, karena umumnya sistem operasi ini dibanderol mulai dari 2 Jutaan. Lucunya, Microsoft entah mengapa masih menyisipkan bloatware yang sebenarnya tidak diperlukan sama sekali di sistem operasinya.

Menurut spekulasi Author, penyisipan bloatware berupa games tersebut sebenarnya bertujuan untuk memudahkan penggunanya ketika ingin memainkan games tanpa perlu repot mencari kesana-kemari. Sayangnya, eksekusi yang dilakukan oleh Microsoft pada sistem operasinya ini malah terkesan serampangan dan tidak profesional sama sekali, what a shame.

Pada dasarnya, sistem operasi berbayar seperti Windows tidak sepantasnya memasukkan bloatware dengan alasan apapun karena seperti yang baru kita singgung di atas, we pay for the OS, but not for the bloatware.

Memang, untuk menghapus bloatware tersebut ada tata caranya tersendiri, namun seorang average user tentu tidak akan mengerti hal yang bersifat teknis seperti itu. Sehingga, ketika bloatware tersebut membutuhkan update, tidak heran bila pengguna akan bingung ketika storage yang mereka gunakan tiba-tiba habis begitu saja.

Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya satu-satunya cara yang paling mudah adalah dengan tidak menggunakan Windows 10 karena alasan yang telah Author singgung di atas. Namun, bila memang terpaksa untuk menggunakan Windows 10, alternatif seperti Ghost Spectre tersedia untuk user yang muak dengan bloatware tersebut.

Referensi bloatware yang dimiliki Windows 10 dapat dilihat pada situs DigitalCitizen, yang kemungkinan masih merangkum sebagian kecil aplikasi sampah pada sistem operasi besutan Microsoft tersebut.

Bloatware Di Smartphone

Bloatware Sampah

Selain Windows 10, bloatware juga dapat kita temukan di smartphone, khususnya Android. Author pribadi bisa memastikan bahwa hampir semua smartphone yang beredar di Indonesia memiliki segudang bloatware dan menerapkan fitur auto-update yang bersifat memaksa.

Hal ini sebenarnya terdengar sederhana, namun penerapan fitur auto-update seperti ini sangat jelas melanggar hak pengguna untuk memiliki kontrol penuh terhadap perangkat yang digunakannya.

Logikanya, pengguna mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli smartphone terbaru, namun tetap saja para pengembang bersikap masa bodoh, seolah tuli, dan tetap memaksakan kehendaknya kepada para pengguna untuk 100% tunduk kepada produsen smartphone layaknya tuhan, and it’s wrong in so many aspects.

Untuk menghilangkan bloatware di smartphone ini tidaklah semudah komputer, karena membutuhkan langkah ekstra, dimana salah satu langkah sedikit saja perangkat dapat rusak begitu saja.

Again, kebebasan pengguna pada smartphone saat ini sangat-sangat dibatasi karena langkah yang diperlukan terbukti lebih sulit. Lucu sih, beli smartphone mahal-mahal entah itu tunai atau kredit, rasanya sayang aja sih karena pada akhirnya kita seakan tidak diberikan kebebasan untuk memiliki kontrol penuh terhadap perangkat yang kita miliki.

Sebagai salah satu contoh untuk mengatasi bloatware, Author mereferensikan situs Androidsage, yang memberikan informasi secara mendetail terhadap apa saja langkah preventif yang dapat kita lakukan untuk menguranginya.

Memanfaatkan Manusia FOMO

FOMO

“FEAR OF MISSING OUT IS A SIN” – Author

Selain kesalahan dari pihak pengembang dan produsen itu sendiri, pihak lain yang seharusnya disalahkan adalah mereka yang memiliki sifat fear of missing out. Sebenarnya, gak salah kok memiliki sifat FOMO, namun wajib dalam taraf yang wajar dan tidak merugikan banyak pihak seperti yang saat ini terjadi.

I mean, pengguna produk tersebut sudah bisa dipastikan adalah manusia, dan tentunya tidak semua orang akan suka dengan penerapan sistem yang bersifat memaksa seperti ini, termasuk Author yang meskipun suka dengan perkembangan teknologi, namun sama sekali tidak FOMO.

Buat kalian yang demen dengan update, i don’t even give a shit, karena saya sama sekali tidak akan tergugah untuk mengikuti langkah para manusia FOMO. It’s actually okay if we don’t get any update, because we won’t die from missing out something too.

Namun sayang sekali, sepertinya hal mendasar seperti kontrol penuh terhadap perangkat tidak akan terjadi dalam waktu dekat, khususnya bagi pengguna smartphone.

Nah, buat yang masih penasaran betapa jahatnya bloatware, mungkin bisa Author referensikan ke situs Tirto yang mendapat honorable mention dari Author blog kecil ini karena berani mengemukakan pendapatnya secara lantang dan mendetail.


Well, kira-kira itulah hal yang ingin dibahas Author terkait bloatware ini. Sangat disayangkan bila customer seakan dipaksa dan tidak memiliki opsi untuk memiliki kontrol penuh terhadap perangkat elektronik ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s